Cerita meriam bambu

13 Agu

seperti malam malam sebelumnya, sekitar jam 7 malam. kami mulai melakukan persiapan berupa meriam bambu, karbit dan ganjreng (obor kecil dari botol bekas kratingdaeng).
berkumpul ditempat biasa di persimpangan gang di tepi kali kecil, meriam bambu kami arahkan ke sawah. perang suara cetarrrr pun segera di mulai.
orang orang sekitar memang sudah maklum dengan suara suara meriam bambu menjelang malam karena sudah menjadi tradisi rikala mendekati hari raya nyepi. yang penting jauh dari pemukiman penduduk.
letusan demi letusan, saling berpalu dengan meriam punya kawan di seberang. siapa yang paling besar suaranya adalah pemenangnya. sambil bercerita dengan kawan. waktu terasa cepat berlalu.
tak terasa jam hampir menunjukan pukul 10 malam. tanpa sengaja seorang teman memperhatikan ada sosok hitam berdiri di bawah pohon juwet besar sekitar 10 meter dari tempat kami bermain meriam.
saya pun ikut memperhatikan dengan seksama, tapi mata ini serasa seperti samar samar tidak jelas seperti kamera yang tidak tepat fokus. yang saya ingat sosok tersebut memakai baju hitam dan celana panjang hitam. tangannya melambai lambai seperti memanggil kami agar mendekat.
bulu kuduk pun merinding. semua kawanan menjadi panik. dan tidak berani mendekati sosok itu.
seorang teman berinisiatif pulang mengambil lampu senter, dan memanggil bapaknya agar ikut melihat sosok tersebut.
beberapa saat kemudian entah darimana datangnya, ada semacam kilat kecil di langit sehingga beberapa saat suasana terasa terang. kami semua terkejut karena sosok tersebut terlihat jelas, karena sebelumnya kami kurang yakin dan menduga bahwa yang kami lihat itu hanya ilusi.
karena sudah yakin bahwa itu adalah manusia, kami semua bersama bapak teman kami, mendekati sosok tersebut sambil membawa senter.
tiba tiba sosok tersebut menghilang tanpa jejak.
keberanian kami pun muncul, kami cari cari dia di segala penjuru tapi nihil.
pencarian itupun kami akhiri, dan kami pulang kerumah masing masing.
beberapa hari kemudian beredar cerita rumor, itu adalah ulah seseorang yang merasa terganggu sapi peliharaannya akibat suara meriam bambu kami. sehingga beliau memperingatkan agar kami tidak melakukannya lagi.
sampai detik ini, kami tidak pernah bermain meriam bambu lagi. kami sudah kapok diganggu oleh mahluk malam.


semoga cerita ngelantur ini berguna buat pembaca.
hehehe….

Iklan